Sejarah penemuan dan penciptaan oleh manusia, bukanlah sejarah
para penguasa. Penguasa dan kekuasaan berawal ramah, tapi berujung beku,
mematikan kreativitas. Penemuan dan penciptaan selalu diragi dalam
kenyataan serba kreatif. Bahwa suasana kreatif menjadi mustahak dan
niscaya untuk suatu penemuan dan penciptaan. Karya seni sebagaimana
temuan sains selalu terlahir dalam suasana yang dilayani oleh iklim
imajinatif-kreatif. Seorang ilmuan ataupun seniman, bisa melayari
imajinasi kreatif jika dia berada dalam naungan hangat dan merdeka.
Bahwa orang-orang ‘merdeka’-lah yang bisa melayari imajinasi. Namun, tak
sedikit pula kisah mereka yang berada dalam tekanan politik, malah
rancak melayari imajinasi kreatif dalam penjara ataupun selama menjalani
kerja paksa. Mereka menulis dan mencatat atau membuat diagram atau
bahkan dalam citra grafis.
Karya seni hari ini di Riau, telah mati. Penyebab utamanya adalah penguasa dan pemerintah yang mengkooptasi kehidupan kreatif. Penguasa yang notabene negara, terlalu jauh masuk mengurus hidup dan dunia kreatif seniman. Seniman dianggap sebagai tenaga honor, bagian struktural birokrasi, bagian internal birokrasi yang diperlakukan layaknya barisan pegawai dalam arus besar mesin birokrasi. Hari ini kesenian dan temuan kreatif hanya berada di bawah cangkang penguasa. Jangan berharap iklim begini bakal melahirkan karya dan temuan besar dan bermakna dalam dunia seni. Demikian pula, jangan berharap banyak pada lembaga yang membidangi penelitian atau riset yang berada di bawah pemerintah daerah. Dia tak akan menjadi stimuli yang kuat untuk sebuah temuan dan penciptaan kreatif. Anggaran yang disediakan untuk sebuah riset yang berasal dari anggaran pemerintah daerah, dia tak lebih dari ‘jalan adiministrasi’ keuangan biasa. Tak ada faedah dari pekerjaan dan hasil riset yang didanai oleh pemerintah daerah. Dia tak lebih dari pola ‘akal-akalan’ yang menyajikan kaidah ‘seolah-olah riset’, padahal hanya jalan sunyi. Tak memberi fadilat apapun secara saintifik.
Makanya, selama tetap berada di bawah cangkang pemerintah, jangan berharap menghasilkan temuan-temuan sains, atau hasil daya cipta akal budi. Karena segala perbuatan yang mulia itu (riset dan imajinasi kreatif) dan demi kemanusiaan itu, tak lebih dari sederet barisan yang harus mengikut selera dan kemauan gaya ‘marching band’. Berbunyi dan bergaya tersusun, rapi dan hanya membawa karya-karya yang sudah ada dan tersedia. Tak ada karya ciptaan sendiri yang dibawakan oleh barisan ‘marching band’. Kalaupun ada, tak lebih dari karya-karya picisan para penguasa yang memaksakan naik panggung dan membuat album ketika berkuasa pula.
Sejarah penemuan dan penciptaan karya kreatif, berbanding terbalik dengan suasana tadi. Chairil Anwar, Amir Hamzah yang menjahit sejarah karya sastra monumental di negeri ini, bukan karena dorongan dana pemerintah dan anggaran yang disediakan secara manja oleh penguasa. Dia lahir dari sebuah kegelisahan kreatif. Plato, Aristoteles, hingga Newton dan Albert Einstein, Faraday, sampai Bill Gates, juga menjadi penemu dan pemikir besar di bumi ini, berkat kenyataan kreatif dan kebebasan berfikir yang tak pernah dikangkangi para penguasa. Ingat, kekuasaan dan gereja yang bersabda, menjadi penumpul ilmu pengetahuan pada sebuah zaman di Eropa; tragedi Galilei Galileo. Begitu juga tragedi minum racun di penjara yang harus dilakukan oleh bapa filsafat Socrates. Walhasil, amat sedikit penguasa yang berperan sebagai perangsang bijak bagi kehidupan kreatif yang berujung pada karya dan temuan-temuan berharga demi kemanusiaan. Bani Abassyiah menjadi satu momentum sejarah yang cerlang dalam tradisi ilmu. Begitu juga di Indonesia, ada sosok visioner yang mengirim anak muda ke universitas terbaik dunia dalam jumlah ribuan. Di sini Habibie berbuat dalam rengkuhan 50 tahun ke depan, demi sumberdaya manusia Indonesia. Tapi, hari ini, penguasa malah memborong semua bidang dan sisi. Penguasa jadi seniman, jadi ulama, jadi akademikus sekaligus perencana sosial dan perencana teknis.
Jangan heran, kalau sudah berkuasa semua kehendak bisa disusun dan dilaksanakan. Jika sebelumnya menjalani kehidupan tak kreatif, maka ketika berkuasa, memaksa buat album, menuntut segala gelar akademik agar terkesan intelektual. Gelar akademik jadi mainan, sebagaimana dengan gelar bangsawan. Tanpa ada sejarah keilmuan, bergila-gila minta dapat gelar Honoris Causa. Maka, bersibuklah segala pemimpin kita hari ini, yang menggunakan kekuasaan untuk membangun imej sebagai pemimpin intelek. Padahal, intelektual akademis tidaklah menjadi syarat utama ketika ingin menjadi penguasa. Sejarah mencatat, para penguasa yang sensitif dengan kepentingan rakyat adalah mereka yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi. Mereka merupakan sosok yang bijak dan bajik. Bijak mengenderai zaman dan kehendak zaman. Bajik dalam mendorong rakyatnya berbuat dan berkarya, sehingga terbangun sebuah masyarakat yang mandiri.
Jika masyarakat bisa membuat acara kebudayaan sendiri, mandiri tanpa menggunakan anggaran pemerintah, berarti pemerintah itu berhasil dan berjaya. Sebab, ternyata rakyat berdaulat atas dirinya, berdaulat dalam mengatur dan menyusun mimpinya sendiri. Bisa memanjat mimpi itu sendiri dengan ikhtiar dan caranya masing-masing. Tanpa harus dipidatoi para penguasa. Sejauh ini, rakyat kita tak mandiri. Belum sah sebuah majelis perkawinan jika tak dihadiri penguasa, pejabat. Rakyat menjadi tergantung dengan sesuatu yang berada di atas. Padahal sebelum ada penguasa, rakyat tetap hidup dan berjalan dengan ‘temuan-temuan’, bergerak dengan ‘imajinasi-imajinasi’. Hasil dari gerak temuan dan imajinasi itu, menjelma dalam wujud jembatan, parit, jalan kampung, irigasi, dermaga yang dibangun secara masif melalui modal sosial yang juga masif. Lembaga-lembaga gotong royong seperti batobo, subak dan sejenis itu, pada dasarnya adalah gambaran kreatif dan mandiri yang menjadi bawaan inheren dalam sebuah masyarakat. Sebab, setiap masyarakat memiliki sistem ‘pertahanan’ diri sendiri, kemampuan adaptasi. Di sinilah peran pemerintah dan penguasa. Setakat mendorong, memfasilitasi. Bukan malah menjadi pelaksana mimpi masyarakat, menjadi pelaksana sebuah event dan melakukan kegiatan riset yang ternyata berujung sampu dan majal di ujung.***
Karya seni hari ini di Riau, telah mati. Penyebab utamanya adalah penguasa dan pemerintah yang mengkooptasi kehidupan kreatif. Penguasa yang notabene negara, terlalu jauh masuk mengurus hidup dan dunia kreatif seniman. Seniman dianggap sebagai tenaga honor, bagian struktural birokrasi, bagian internal birokrasi yang diperlakukan layaknya barisan pegawai dalam arus besar mesin birokrasi. Hari ini kesenian dan temuan kreatif hanya berada di bawah cangkang penguasa. Jangan berharap iklim begini bakal melahirkan karya dan temuan besar dan bermakna dalam dunia seni. Demikian pula, jangan berharap banyak pada lembaga yang membidangi penelitian atau riset yang berada di bawah pemerintah daerah. Dia tak akan menjadi stimuli yang kuat untuk sebuah temuan dan penciptaan kreatif. Anggaran yang disediakan untuk sebuah riset yang berasal dari anggaran pemerintah daerah, dia tak lebih dari ‘jalan adiministrasi’ keuangan biasa. Tak ada faedah dari pekerjaan dan hasil riset yang didanai oleh pemerintah daerah. Dia tak lebih dari pola ‘akal-akalan’ yang menyajikan kaidah ‘seolah-olah riset’, padahal hanya jalan sunyi. Tak memberi fadilat apapun secara saintifik.
Makanya, selama tetap berada di bawah cangkang pemerintah, jangan berharap menghasilkan temuan-temuan sains, atau hasil daya cipta akal budi. Karena segala perbuatan yang mulia itu (riset dan imajinasi kreatif) dan demi kemanusiaan itu, tak lebih dari sederet barisan yang harus mengikut selera dan kemauan gaya ‘marching band’. Berbunyi dan bergaya tersusun, rapi dan hanya membawa karya-karya yang sudah ada dan tersedia. Tak ada karya ciptaan sendiri yang dibawakan oleh barisan ‘marching band’. Kalaupun ada, tak lebih dari karya-karya picisan para penguasa yang memaksakan naik panggung dan membuat album ketika berkuasa pula.
Sejarah penemuan dan penciptaan karya kreatif, berbanding terbalik dengan suasana tadi. Chairil Anwar, Amir Hamzah yang menjahit sejarah karya sastra monumental di negeri ini, bukan karena dorongan dana pemerintah dan anggaran yang disediakan secara manja oleh penguasa. Dia lahir dari sebuah kegelisahan kreatif. Plato, Aristoteles, hingga Newton dan Albert Einstein, Faraday, sampai Bill Gates, juga menjadi penemu dan pemikir besar di bumi ini, berkat kenyataan kreatif dan kebebasan berfikir yang tak pernah dikangkangi para penguasa. Ingat, kekuasaan dan gereja yang bersabda, menjadi penumpul ilmu pengetahuan pada sebuah zaman di Eropa; tragedi Galilei Galileo. Begitu juga tragedi minum racun di penjara yang harus dilakukan oleh bapa filsafat Socrates. Walhasil, amat sedikit penguasa yang berperan sebagai perangsang bijak bagi kehidupan kreatif yang berujung pada karya dan temuan-temuan berharga demi kemanusiaan. Bani Abassyiah menjadi satu momentum sejarah yang cerlang dalam tradisi ilmu. Begitu juga di Indonesia, ada sosok visioner yang mengirim anak muda ke universitas terbaik dunia dalam jumlah ribuan. Di sini Habibie berbuat dalam rengkuhan 50 tahun ke depan, demi sumberdaya manusia Indonesia. Tapi, hari ini, penguasa malah memborong semua bidang dan sisi. Penguasa jadi seniman, jadi ulama, jadi akademikus sekaligus perencana sosial dan perencana teknis.
Jangan heran, kalau sudah berkuasa semua kehendak bisa disusun dan dilaksanakan. Jika sebelumnya menjalani kehidupan tak kreatif, maka ketika berkuasa, memaksa buat album, menuntut segala gelar akademik agar terkesan intelektual. Gelar akademik jadi mainan, sebagaimana dengan gelar bangsawan. Tanpa ada sejarah keilmuan, bergila-gila minta dapat gelar Honoris Causa. Maka, bersibuklah segala pemimpin kita hari ini, yang menggunakan kekuasaan untuk membangun imej sebagai pemimpin intelek. Padahal, intelektual akademis tidaklah menjadi syarat utama ketika ingin menjadi penguasa. Sejarah mencatat, para penguasa yang sensitif dengan kepentingan rakyat adalah mereka yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi. Mereka merupakan sosok yang bijak dan bajik. Bijak mengenderai zaman dan kehendak zaman. Bajik dalam mendorong rakyatnya berbuat dan berkarya, sehingga terbangun sebuah masyarakat yang mandiri.
Jika masyarakat bisa membuat acara kebudayaan sendiri, mandiri tanpa menggunakan anggaran pemerintah, berarti pemerintah itu berhasil dan berjaya. Sebab, ternyata rakyat berdaulat atas dirinya, berdaulat dalam mengatur dan menyusun mimpinya sendiri. Bisa memanjat mimpi itu sendiri dengan ikhtiar dan caranya masing-masing. Tanpa harus dipidatoi para penguasa. Sejauh ini, rakyat kita tak mandiri. Belum sah sebuah majelis perkawinan jika tak dihadiri penguasa, pejabat. Rakyat menjadi tergantung dengan sesuatu yang berada di atas. Padahal sebelum ada penguasa, rakyat tetap hidup dan berjalan dengan ‘temuan-temuan’, bergerak dengan ‘imajinasi-imajinasi’. Hasil dari gerak temuan dan imajinasi itu, menjelma dalam wujud jembatan, parit, jalan kampung, irigasi, dermaga yang dibangun secara masif melalui modal sosial yang juga masif. Lembaga-lembaga gotong royong seperti batobo, subak dan sejenis itu, pada dasarnya adalah gambaran kreatif dan mandiri yang menjadi bawaan inheren dalam sebuah masyarakat. Sebab, setiap masyarakat memiliki sistem ‘pertahanan’ diri sendiri, kemampuan adaptasi. Di sinilah peran pemerintah dan penguasa. Setakat mendorong, memfasilitasi. Bukan malah menjadi pelaksana mimpi masyarakat, menjadi pelaksana sebuah event dan melakukan kegiatan riset yang ternyata berujung sampu dan majal di ujung.***










